RSS

Mengapa 2 Tahun Ini Tak Ada Tsunami Besar?

24 Jun

VIVAnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki peran penting dalam mengabarkan terjadinya bencana kepada masyarakat. Namun, menurut Deputi Bidang Geofisika BMKG, Prih Harjadi, lembaganya juga berperan dalam mitigasi bencana.

Diungkapkan dalam setahun rata-rata terjadi 3.500 gempa di wilayah Indonesia. Pada tahun 2005 tercatat sekitar 6.000 gempa, tahun 2006 ada 3.800 gempa, dan tahun 2009 sebanyak 2.700 gempa.

“Di tahun 2010, sampai bulan Mei tercatat 3.100 gempa. Ini apakah aktivitas naik atau karena sistem kita [mencatat gempa] tambah banyak,” kata Prih Harjadi, dalam diskusi bertajuk ‘Kepemimpinan dalam Pengelolaan Bencana. Mencari Formulasi untuk Indonesia’ di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis 24 Juni 2010.

Sementara untuk gempa besar, yang kekuatannya di atas 7 skala Richter, ungkap Prih, dari tahun 2005 hingga 2010 sudah ada 25 gempa.

“Gempa dengan magnitude di atas 7 SR pada tahun 2010, sampai bulan Mei sudah tujuh kali. Ditambah dengan gempa di Yapen, jadi delapan kali,” ungkap Prih.

Gempa 7,1 skala Richter mengguncang  Serui Kepulauan Yapen Papua, Senin, 21 Juni 2010, pukul 06.00 Wit.

Untuk klaster Aceh, tambah dia, rata-rata periode ulang 24 hari atau  hampir 1 bulan,  akan terjadi gempa. “Tapi ini rata-rata, nyatanya tidak seperti itu, ada kemungkinan satu bulan tak ada gempa sama sekali, atau sebaliknya, dua sampai tiga gempa sebulan,” tambah dia.

Bagaimana dengan tsunami? BMKG mencatat sejak 2005 hingga 2007 tsunami terjadi tiap tahun, yakni tahun 2005 di Nias, tahun 2006 di Pangandaran, dan 2007 di Bengkulu.

“Tahun 2008 sampai 2010 ini belum ada tsunami yang menimbulkan kerusakan. “Ini yang perlu jadi perhatian, apakah berarti masuk periode tenang atau [menunggu momentum] ‘rekening’ gempa di Mentawai masih banyak sekali,” tambah Prih.

Ditambahkan dia, BMKG kini telah memperbarui sistem monitoring. “Kita telah bangun jaringan gempa bumi dengan World Bank.”

Sebelumnya, Ahli tsunami Institut Teknologi Bandung (ITB) Hamzah Latief mengatakan, salah satu tsunami dahsyat yang pernah dialami Indonesia adalah yang dipicu meletusnya Gunung Krakatau 1883. Saat itu, gelombang 35 meter menerjang.

“30 ribu orang tewas saat itu. Itu di tahun 1883, apalagi jika terjadi saat ini,” kata Hamzah.

Yang patut disayangkan, kata dia, Indonesia tidak memiliki data-data yang lengkap karena sibuk dalam perang kemerdekaan. Baru sekitar 1970-1980-an data-data mulai dikumpulkan.

Padahal, data-data tersebut sangat penting untuk membuat peta hazard kegempaan (seismic hazard) – peta rekahan patahan pasca gempa bumi — yang bisa jadi petunjuk untuk memperkirakan potensi gempa bumi yang akan datang.

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2010 in information

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: